thumbnail

Satu Janji di Ujung Senja

Di sebuah desa kecil yang tenang, tinggal seorang pemuda bernama Arga. Ia adalah seorang tukang kayu sederhana yang setiap harinya bekerja membuat perabot dari kayu pinus di bengkel kecil warisan ayahnya. Arga bukan orang yang pandai bicara, tapi hatinya penuh kelembutan dan kesetiaan.

Suatu hari, seorang gadis dari kota bernama Laila datang ke desa itu. Ia sedang mencari ketenangan dari hiruk-pikuk kota setelah kehilangan ibunya. Laila tinggal sementara di rumah bibinya, tak jauh dari bengkel Arga. Pertemuan pertama mereka terjadi ketika Laila melihat Arga sedang memperbaiki bangku tua di taman desa. Ia menghampirinya, menawarkan teh hangat, dan sejak hari itu, mereka mulai berbicara.

Hari demi hari, hubungan mereka tumbuh—bukan dengan kata-kata manis atau gombal yang berlebihan, tetapi dengan kebersamaan yang tenang. Arga membuatkan Laila kursi goyang dari kayu terbaik, dan Laila menanam bunga-bunga di sekitar bengkel Arga. Mereka saling mengisi kekosongan yang tidak bisa dijelaskan, dan lambat laun, cinta tumbuh tanpa perlu dinyatakan.

Namun, waktu terus berjalan. Masa tinggal Laila di desa hampir habis. Ia harus kembali ke kota untuk melanjutkan hidupnya, mengejar karier dan cita-cita yang sempat terhenti. Di sore terakhirnya di desa, mereka duduk berdua di bangku taman tempat mereka pertama kali bertemu, di bawah langit senja yang mulai menguning.

"Aku harus pergi, Arga," kata Laila, suaranya bergetar.

Arga hanya mengangguk, matanya menatap cakrawala. Ia tahu ini akan terjadi, tapi itu tak membuatnya lebih mudah.

"Aku akan kembali suatu hari nanti," lanjut Laila, "kalau kamu masih di sini, dan hatimu belum berubah…"

"Aku akan tetap di sini," potong Arga pelan, "dengan bangku ini, dan kursi goyang yang kubuat untukmu. Aku tidak akan ke mana-mana."

Laila menatapnya lama, lalu mengangguk. Mereka tidak berpelukan, tidak menangis. Hanya saling menatap dan mengikat janji dalam diam.

Tahun demi tahun berlalu. Arga tetap di desa. Ia terus memperbaiki bangku di taman dan menyiram bunga yang ditanam Laila. Banyak yang bilang ia bodoh, menunggu wanita yang belum tentu kembali. Tapi Arga tidak peduli.

Suatu senja, sepuluh tahun sejak perpisahan itu, seorang wanita turun dari mobil di ujung jalan desa. Rambutnya tertiup angin, dan matanya mencari-cari… hingga akhirnya berhenti di satu titik.

Di sana, di bangku tua yang sama, duduk seorang pria dengan senyum yang tidak berubah.

"Aku pulang, Arga," bisik Laila.

Dan untuk pertama kalinya, Arga berdiri, merentangkan tangannya, dan mereka berpelukan di bawah langit senja, menyatukan dua hati yang tak pernah benar-benar berpisah.
Tags :

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments